• MITRA HANNIEN TOUR, Bekasi
  • 0812 1309 9295
  • hannienumroh@gmail.com
Padang Arafah Kami Rindu Ingin Kesana Umroh Plus Turki Layanan Terbaik Kami Pengalaman Yang Berbeda Dapatkan Cashback

Tuesday, October 13, 2015

Tuntunan Pakaian Haji dan Umrah


Sebagai agama yang diturunkan oleh Sang Pencipta, tentu Islam merupakan agama yang paripurna untuk manusia. Dari bangun tidur hingga kembali tidur, dari atas kepala hingga bawah kaki, dari kehidupan pribadi hingga hidup bermasyarakat, Islam memiliki petunjuknya.

Begitu pun dengan pakaian yang digunakan dalam haji dan umrah. Ada petunjuk Rasulullah saw. seperti yang tercantum dalam hadits berikut.

[BAB 41: MEMBERIKAN JAWABAN LEBIH BANYAK
109. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi: "Pakaian seperti apa yang harus dikenakan oleh muhrim (orang yang berhaji atau umrah)?" Rasulullah menjawab, "Tidak boleh mengenakan baju, surban, celana panjang, penutup kepala, pakaian yang dicelup wars (jenis tumbuhan) atau za'faran (jenis wewangian). Jika dia tidak mendapatkan sepasang sandal, maka dia boleh memakai sepasang khuffain (kaos kaki dari kulit) tetapi harus dipotong bagian atasnya sehingga terlihat mata kakinya."]
(Ringkasan Shahih Bukhari, Imam Az-Zabidi, Hal. 42, Penerbit Jabal, Juni 2012)

Maa syaa Allah walhamdulillah, ini merupakan nikmat Allah swt. yang diberikan kepada umat Islam dengan diberikannya petunjuk yang jelas. Ini pun merupakan janji Allah swt. bahwa Dia-lah yang akan menjaga agama-Nya.

Semoga kita selalu berada dalam hidayah-Nya agar terus dalam keadaan Islam hingga akhir hayat. Dan semoga Allah swt. mengabulkan kerinduan kita akan dua tanah suci yang berada di bawah perlindungan-Nya.
Aamiin ya Rabbal 'aalamiin. (^_^)

Dua Tempat Bersejarah di Madinah yang Menjadi Favorit Bagi Jamaah Haji


Terdapat dua tempat bersejarah di Madinah yang sering dikunjungi oleh jamaah haji. Tempat bersejarah ini bernama Masjid Nabawi dan Raudhah. Masjid Nabawi menjadi magnet terbesar bagi umat Islam untuk menjalankan ibadah selama musim haji.

Nabi Muhammad SAW membangun Masjid Nabawi pada bulan Rabiul Awal di awal-awal hijrahnya ke Madinah. Pada saat itu panjang masjid adalah 70 hasta dan lebarnya 60 hasta atau panjangnya 35 m dan lebar 30 m. Saat itu Masjid Nabawi sangat sederhana, lantai masjid adalah tanah yang berbatu, ataonya pelepah kurma, dan terdapat tiga pintu, sementara sekarang keadaan bangunannya sangat besar dan megah.
 
Kala itu area yang hendak dibangun Masjid Nabawi terdapat bangunan yang dimiliki oleh Bani Najjar. Rasulullah SAW berkata kepada Bani Najjar, “Wahai Bani Najjar, berilah harga bangunan kalian ini?” orang-orang Bani Najjar menjawab, “Tidak, demi Allah. Kami tidak akan meminta harga untuk bangunan ini kecuali hanya kepada Allah.” Bani Najjar dengan suka rela mewakafkan bangunan dan tanah mereka untuk pembangunan Masjid Nabawi dan mereka berharap pahala dari sisi Allah atas amalan mereka tersebut.
Anas bin Malik yang meriwayatkan hadits ini menuturkan, “saat itu di area pembangunan terdapat kuburan orang-orang musyrik, puing-puing bangunan, dan pohon kurma. Rasulullah SAW memerintahkan untuk memindahkan mayat di makam tersebut, meratakan puing-puing, dan menebang pohon kurma.”


Pada tahun 7 H, jumlah umat Islam semakin banyak, dan masjid menjadi penuh, Nabi pun mengambil kebijakan memperluas Masjid Nabawi. Beliau tambahkan masing-masing 20 hasta untuk panjang dan lebar masjid. Ustman bin Affan adalah orang yang menanggung biaya pembebasan tanah untuk perluasan masjid saat itu. Peristiwa ini terjadi sepulangnya beliau dari Perang Khaibar.


Masjid Nabawi adalah masjid yang dibangun dengan landasan ketaqwaan. Diantara keutamaan masjid ini adalah dilipatgandakannya pahala shalat di dalamnya. Rasulullah SAW bersabda: “shalat di masjidku ini lebih utama dari 1000 kali shalat di masjid selainnya, kecuali Masjidil Haram.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tak heran, pantauan tim Media Center Haji di Masjid Nabawi, Madinah, Sabtu (05/09) ratusan ribu jamaah haji dari berbagai Negara pun selleu memadati Masjid Nabawi di setiap waktu shalat. Mereka para jamaah itu termasuk dari Indonesia bahkan menyempatkan diri untuk tetap tinggal di antara waktu shalat yang pendek seperti waktu shalat Ashar, Maghrib, dan Isya untuk terus menjalankan ibadah shalat sunnah. (sumber: http://haji.kemenag.go.id/v2/content/dua-tempat-di-madinah-ini-jadi-magnet-jutaan-jemaah-haji-di-seluruh-dunia)


Tempat selanjutnya yang paling banyak dikunjungi adalah Raudhah. Raudhah merupakan salah satu tempat yang sangat dimuliakan. Tempat ini berada dalam Masjid Nabawi. Tempat ini menjadi tempat ibadah Rasulullah dan para shahabat, bahkan di tempat ini Rasulullah mendapatkan wahyu dari Allah SWT. Nama Raudhah merupakan sebuah taman syurga seperti yang dijelaskan dalam hadits: “Di antara rumahku dan mimbarku adalah satu taman dari pada taman-taman syurga. Dan mimbarku terletak di atas kolamku.”


Raudhah merupakan tempat yang mustajab untuk berdoa. Untuk dapat masuk ke Raudhah, tentu dibutuhkan sebuah kesabaran. Seringkali saat kita shalat, ada jamaah lain berdiri di depan kita sehingga tidak bisa ruku’ dan sujud. Meski duduk berdempetan, ada juga jamaah yang memaksakan diri untuk minta duduk. Tidak jarang kepala atau bahu dilangkahi atau tertendang, dan tangan terinjak. Cara paling aman adalah bersama teman, shalat bergantian dan saling menjaga (dengan menjulurkan tangan) ketika sedang shalat.

Masjid nabawi yang hingga hari ini terus melakukan perluasan, kini berdiri megah dengan luas bangunan 165 ribu meter persegi. Semoga Allah senantiasa menjaga masjid ini. (AM/berbagai sumber)

Haji Badri dan Uwais Al Qarni


Adalah Haji Badri (53 tahun), yang menarik perhatian sebuah Koran Al-Madinah. Selama musim haji, ia mengendong ibunya tercinta yang berusia 80 tahun. Di kota suci, Koran Al-Madinah meliput H Badri karena mengingatkan seorang shaleh yang dikagumi Nabi Muhammad. Ia adalah Uwais, seorang penduduk desa al-qarani di Yaman yang tidak terkenal di bumi namun masyhur di langit.

Itu dia lakukan mulai berangkat dari rumah Indonesia, sampai tuntas melaksanakan sarat rukun haji, beliau merawat juga mengendong kemanapun selama di tanah suci.
“Beliau inspirasi bagi kita semua, Semoga beliau menjadi haji mabrur senantiasa diberikan kesehatan lahir batin. Semoga kelak kita maupun anak cucu kita mampu mencontoh beliau yang taat dan tawadzu, serta benar-benar berbakti, pada orang tua, mengasihi ibundanya. Semua bentuk khidmat itu merupakan pusaka yang luar biasa fadhilahnya." Ujar Ketua Umum IPHI H Kurdi Mustafa menanggapi teladan H Badri.
Kisah Uwais bin ‘Amir Al Qarni ini patut diambil faedah dan pelajaran. Terutama ia punya amalan mulia bakti pada orang tua sehingga banyak orang yang meminta doa kebaikan melalui perantaranya. Apalagi yang menyuruh orang-orang meminta doa ampunan darinya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sudah disampaikan oleh beliau jauh-jauh hari.
 
Kisahnya adalah berawal dari pertemuaannya dengan ‘Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu.
Umar berkata, “Aku sendiri pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama serombongan pasukan dari Yaman. Ia berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. Ia punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka akan diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya"
Uwais Al-Qorni seorang pemuda Yaman yang sangat berbakti kepada ibunya. Selama 8 bulan Uweis berlatih menggendong seekor lembu naik turun bukit. Dan sampailah pada Musim Haji, dengan tegap digendongnya Ibunya yang sudah uzur dari Yaman ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji.
Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka'bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka'bah, ibu dan anak itu berdoa. "Ya Allah, ampuni semua dosa ibu," kata Uwais. "Bagaimana dengan dosamu?" tanya ibunya heran. Uwais menjawab, "Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga."
Semoga kita bisa meneladani bakti Uwais Al Qarni dan Haji Badri yang sangat luar biasa kepada sang Ibu. Aamiin